Evaluasi Tingkat Bahaya Kebakaran Bulan Maret 2026
Sistem peringatan kebakaran hutan di Sumatera Selatan menggunakan tiga indikator utama yang bekerja seperti termometer untuk mengukur risiko kebakaran. Ketiga indikator ini—Fine Fuel Moisture Code (FFMC), Drought Code (DC), dan Fire Weather Index (FWI)—masing-masing memiliki peran khusus dalam mendeteksi tingkat bahaya kebakaran berdasarkan kondisi cuaca dan kelembapan bahan bakar di hutan. Berdasarkan data bulan Maret 2026, indeks FFMC di Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan menunjukkan adanya peningkatan pada akhir bulan yang dipengaruhi oleh adanya penurunan curah hujan. Sementara itu, indeks DC dan FWI masih didominasi berada pada kategori rendah seiring dengan masih berlangsungnya periode musim hujan di bulan Maret 2026.


Indeks Bahan Bakar Halus (FFMC) berfungsi sebagai indikator seberapa mudah serasah dan bahan bakar halus di permukaan hutan dapat terbakar. Seperti kertas kering yang mudah terbakar, FFMC dipengaruhi oleh empat faktor cuaca: curah hujan, suhu, kelembapan relatif, dan kecepatan angin dari beberapa hari sebelumnya. Pada bulan Maret 2026, distribusi FFMC menunjukkan 1.7% pada level Rendah, 32.2% pada level Sedang, 30.5% pada level Tinggi, dan 35.6% pada level Ekstrem.
Indeks Kekeringan (DC) berperan sebagai pengukur kondisi kelembapan tanah di lapisan bawah permukaan, yang menentukan seberapa kering fondasi hutan. DC dipengaruhi oleh curah hujan dan suhu, bekerja seperti spons tanah yang semakin kering akan semakin mudah menyerap panas dan mempercepat penyebaran api. DC menunjukkan kondisi 100% kejadian pada level Rendah selama periode Maret 2026.
Indeks Cuaca Kebakaran (FWI) adalah indikator komprehensif yang menggabungkan seluruh faktor cuaca untuk menentukan intensitas potensial kebakaran. Periode Maret 2026 menunjukkan kondisi 54.2% kejadian pada level Rendah, 33.9% pada level Sedang, dan 11.9% pada level Tinggi.
