“Mengantisipasi Karhutla di tengah Puncak Musim Kemarau”

Palembang. Dalam program “Palembang Menyapa” di Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 1 Palembang pada hari rabu (8/7/2026) menghadirkan Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Staklim Sumsel, Nandang Pangaribowo, S.Kom., serta Kasi Wilayah III Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan Lahan (Balai Dalkarhut) Sumatera, Didik Suprijono, S.Hut. Program “Palembang Menyapa” kali ini membahas kesiapsiagaan terhadap ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumatra Selatan.
Nandang Pangaribowo menjelaskan bahwa gambaran iklim pada bulan Juli 2026 di Sumatera Selatan menunjukkan Curah Hujan (CH) dalam kategori rendah dengan sifat hujan di bawah normal, kondisi ini selaras dengan situasi di lapangan saat ini. “Saat ini 85,7% wilayah Sumatera Selatan sudah memasuki musim kemarau, hanya tersisa dua Zona Musim (ZOM) di pesisir timur berbatasan dengan selat Bangka yang masih berpotensi hujan, yaitu di sebagian Kabupaten OKI dan Banyuasin. Namun, puncak musim kemarau sendiri diprediksi baru akan terjadi pada bulan Agustus dan September,” jelas Nandang.
Berdasarkan data pemodelan, kemarau tahun 2026 ini diprediksi akan lebih kering dibandingkan tahun 2023, meskipun tingkat kekeringannya tidak melampaui kondisi ekstrem pada tahun 2015 lalu. Wilayah yang paling rawan mengalami kekeringan dan karhutla berada di daerah bertopografi rendah dan dekat dengan muara Sungai Musi, khususnya Sumatra Selatan bagian tengah dan timur. Beberapa wilayah dengan potensi hotspot tinggi meliputi: Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin (Muba), Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Ogan Ilir (OI) dan Kota Palembang Data pemetaan dari BMKG ini kini menjadi basis krusial bagi seluruh stakeholder untuk memperketat pengawasan titik panas (hotspot). Sosialisasi sudah digencarkan sejak jauh-jauh hari, Nandang Panagribowo mengungkapkan bahwa langkah antisipasi dan sosialisasi ke masyarakat telah digencarkan sejak tiga bulan yang lalu guna menghadapi dampak El Nino ini.
Sementara itu Didik menegaskan bahwa faktor utama pemicu karhutla bukanlah murni karena alam, melainkan akibat aktivitas manusia.”Faktanya, 99% kejadian karhutla disebabkan oleh ulah manusia. Oleh karena itu, kewaspadaan dan peran serta aktif masyarakat sangat menentukan dalam mencegah bencana ini,” tegas Didik Suprijono. Melalui program “Palembang Menyapa”, Didik menyampaikan beberapa poin penting yang wajib dipatuhi oleh masyarakat secara bijaksana, diantaranya dilarang membakar Lahan untuk pembukaan atau pembersihan lahan (land clearing). Respon Cepat Pemadaman jika melihat atau menemukan kejadian kebakaran dalam skala kecil, diharapkan segera melakukan pemadaman mandiri agar api tidak meluas dan segera melapor kepada petugas atau posko kebencanaan terdekat jika api mulai tidak terkendali. Masyarakat diharapkan saling mengingatkan dan mengedukasi warga lainnya akan bahaya karhutla serta dampak kabut asap bagi kesehatan dan ekonomi.
Melalui sinergi data iklim yang akurat dari BMKG dan langkah preventif di lapangan oleh Balai Dalkarhut, diharapkan masyarakat Sumatra Selatan dapat melewati puncak kemarau tahun 2026 ini dengan aman dan bebas dari bencana kabut asap.



