Sejumlah Wilayah Sumsel Berpotensi Kekeringan, BMKG Imbau Masyarakat Hemat Air dan Waspada Karhutla

PALEMBANG, 20 Juli 2026 — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan mengimbau masyarakat untuk mulai berhemat air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Sebagian besar wilayah Sumatera Selatan saat ini telah memasuki musim kemarau dan berpotensi mengalami kekeringan meteorologis hingga hidrologis. Hal tersebut disampaikan oleh Koordinator BMKG Sumatera Selatan sekaligus Kepala Stasiun Klimatologi Sumsel, Dr. Wandayantolis, S.Si, M.Si, dalam program dialog Palembang Menyapa di RRI Pro 1 bersama Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyuasin, Reza Agust Perdana, SE, M.Si.
Wandayantolis menjelaskan bahwa musim kemarau di Sumatera Selatan telah dimulai sejak akhir Mei hingga awal Juni secara merata di 14 Zona Musim (ZOM). Bahkan, sekitar 40% wilayah Sumsel seperti Palembang, Ogan Ilir (OI), dan Banyuasin bagian timur sudah masuk kemarau sejak pertengahan Mei. “Curah hujan sejak Juni hingga Juli tercatat di bawah normal, bahkan lebih kering jika dibandingkan dengan rata-rata 30 tahun terakhir,” ungkap Wandayantolis.
Hingga pertengahan Juli, Hari Tanpa Hujan (HTH) di Sumsel telah mencapai 10–20 hari. BMKG memperingatkan bahwa jika HTH melampaui 30 hari berturut-turut, peringatan dini kekeringan meteorologis akan dirilis. Kondisi ini berisiko berlanjut menjadi kekeringan hidrologis, yang berdampak langsung pada masyarakat. Dampak penurunan muka air tanah dan surutnya embung maupun lebak sudah mulai terlihat di beberapa daerah, salah satunya di Kabupaten Ogan Ilir.
Di tempat yang sama, Kalaksa BPBD Banyuasin, Reza Agust Perdana, membeberkan bahwa dari 21 kecamatan di Kabupaten Banyuasin, sebanyak 10 hingga 11 kecamatan tergolong rentan terhadap bencana kekeringan dan Karhutla. Mengingat Banyuasin memiliki wilayah lahan gambut terluas di Sumsel, potensi kebakaran menjadi ancaman serius. “Sejak Juni mulai terpantau titik panas (hotspot) sebanyak 3–4 kejadian. Memasuki Juli, intensitasnya meningkat dan terjadi hampir setiap hari, terutama di Kecamatan Rantau Bayur. Namun hingga saat ini, penanganan masih bisa diatasi oleh tim di lapangan,” jelas Reza.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Sumsel akan terjadi pada kurun waktu Agustus hingga September. Wandayantolis menegaskan bahwa puncak munculnya titik api (hotspot) justru sering kali terjadi setelah puncak kemarau, yaitu saat kondisi lahan sudah terlanjur sangat kering. Pada fase ini, hujan yang sesekali turun belum cukup mampu memadamkan api di lahan gambut secara total. “Secara normal, kemarau akan berakhir pada awal hingga pertengahan Oktober. Namun jika dipengaruhi fenomena El Niño, kemarau bisa bergeser 10–20 hari dan bertahan hingga akhir Oktober atau awal November,” tambahnya.
Guna meminimalisasi dampak bencana hidrometeorologi selama musim kemarau, BMKG dan BPBD memberikan beberapa imbauan krusial kepada masyarakat: Hemat Air Bersih: Mulailah menghemat penggunaan air dari sekarang guna menjaga ketersediaan air bersih di rumah tangga. Stop Aktivitas Pembakaran: Dilarang keras membuka lahan dengan cara dibakar, serta hindari membakar sampah di pekarangan rumah.
Masyarakat diminta aktif memantau pembaruan informasi cuaca dan iklim melalui kanal media sosial dan situs web resmi BMKG. Informasi Musim & Iklim dirilis setiap 10 hari (dasarian), informasi Cuaca & Peringatan Dini dipembarui setiap hari hingga per jam, dan untuk Informasi Kualitas Udara dirilis secara berkala setiap hari.





